Posts

Showing posts from 2018

12:28

Ya Tuhan, sungguh marah aku diminta begitu banyak Diminta menjadi banyak Diminta banyak-banyak Semua tidak berhenti meminta Mempertanyakan Menuntut Sampai mulutku terkunci dan hatiku berhenti mengerti Kini aku paham mengapa banyak yang ingin mati muda Hidup banyak tidak senangnya.

12:27

Dadaku sesak dan aku akan meledak. Meledak dan meledak Sampai habis. Ditertawakan dan dibiarkan. Kegelapan dan gelap dan ketakutan dan takut. Aku tidak takut kepada rasa takut Dan berteman dengan amarah yang tak mengenal penjelasan. Aku akan meledak habis dan dibiarkan. Sampai nanti bereuni di paralel lain dengan Mereka yang meremas diriku sampai sirna. 12:30 Orang-orang kembali dengan perut kenyang dan mulut penuh gunjingan.

00:59

sudah.

22:40

Tuhan Yesus, tolong... Tolong Ruth.

00:54

Mungkin semua ini hanya imajinasi. Aku terjaga dan berpikir harus bangun dari mimpi. Kau tidak nyata dan kita tidak pernah ada. Kemarin hanyalah kebohongan.

15:41

Kau menonton filmnya tanpa aku. Semua janji bukanlah janji. Tidak ada yang pernah kau ingat tidak ada yang kau ingat. Karena memang bukan hal yang mau kau ingat. Kita letakkan saja pada akhir. Kita letakkan saja pada akhir. Selesai.

14:30

Tolong, bicarakan sesuatu. Aku tenggelam. Tenggelam dalam bising. Tenggelam.

14:13

Diam diam diam!

00:13

Oh, jangan menangis lagi, Ruth. Jangan lagi.

00:04

Bajingan. Dan kontrol diri. Kontrol diri.

21:26

Dunia ini dipenuhi masalah-masalah. Adik-adik kecil bersembunyi di balik ketegaran. Yang satu ingin buru-buru mencari uang supaya bisa keluar dari rumah, yang satu lagi cuma sesederhana ingin membantu ibunya yang sudah bertahun-tahun berjuang sendirian, yang terakhir menyesal pernah melewatkan waktu tanpa ibunya. Aku sendiri masih menyimpan kemarahan dan tahu akan membawanya sampai mati. Tapi kutolak mentah-mentah yang namanya penyesalan. Aku tidak menyesal menjadi siapa diriku, memiliki masa laluku dan mengangkut amarah yang masih membakar dada. Aku tidak menyesal melihat segalanya lebih dalam daripada yang orang lain pernah lakukan. Aku tidak menyesal menangisi hal-hal kecil dan kecewa karena kejadian-kejadian sepele. Aku tidak menyesali hatiku dan aku berdoa kepada Tuhan hati adik-adik kecil diberikan kedamaian dan kekuatan. 21:30 Aku penasaran apakah kau sudah mendarat di Jakarta. Kurindukan segala tentang kita meski aku ragu kau dan aku pernah menjadi kita.

19:26

Terkadang aku bermimpi kau menelepon dan kita bicara panjang lebar.

19:12

Aku terpapar begitu banyak suara dan gambar dunia ini. Manusia dan hatinya yang mudah bosan. Aku sendirian di bawah atap memandangi layangan terbang di langit malam. Mungkin aku tersesat dan sudah muak dengan semua kebencian ini. Dan aku tidak punya tempat pulang selain kepada Tuhan. Aku merindukanmu juga, tapi tak lagi nikmat rasanya pulang ke hati yang tidak pernah menginginkanmu. 19:14 Aku berdoa untuk perjalanan pulangmu besok. Selamatlah.

10:53

Karena aku tahu kau akan lupa mengajakku menonton Incredibles 2. Aku tahu kau melupakan segalanya. Tidak ada yang penting. Tidak ada. Dan itu menjawab segalanya. 10.54 Aku habis sudah.

10:50

Oke, pergilah.

10:39

Kurasa mari kita letakkan akhir untuk semua ini. Sepuluh tahun  sudah lewat dan telah cukup jawaban yang kau berikan. Aku merasa perlu mengatakan ini kepada seseorang. Dan mungkin itu kau. Tapi akhirnya kutuliskan saja. 10:41 Semuanya habis.

17:42

Aku menginginkan kebebesan dan seluruh cinta yang bisa dimiliki seorang wanita muda. Aku ingin menjawab semua pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru lagi sampai aku merasa cukup mengetahui segala yang ingin aku ketahui. Andai saja kamu juga mempertanyakan tanda tanda tanya itu dan bukannya hanya menjalani semua yang sederhana dan berhenti sampai di sana. Mungkin aku yang salah. Mungkin cintaku yang terlalu besar dan penasaran. Tapi kukira kau dulu adalah sebuah dunia. Sekarang aku menemui kau bahkan tidak penasaran apa itu dunia. Aku menginginkan kebebasan. Kebebasan. 17:44 Besok menjadi akhir pekan yang panjang dan malas. Masih, aku berharap kau ada di sana juga.

23:49

Tidak ada histeria di sini. Aku merindukan hujan, salju, serta hutan. Aku merindukan malam dengan lukisan. Dengan obrolan. Tidak ada histeria di sini. Tidak ada kau juga. Aku lelah aku lelah aku ingin tidur.

23:32

Aku tidak di sini. Aku menghilang. Menghilang. Menghilang.

00:34

Kamu selalu jadi rumah dan tanggal 9 menjadi satu lagi saksi bahwa aku betah berlama tinggal. Tapi, aku masih memikirkan pergi. Aku masih memikirkan bagaimana kau justru yang tidak kerasan. Aku masih memikirkan pergi. Perjalanan hari ini membawaku banyak kedamaian.

22:21

Aku mendapatkan kasih sayang semua orang dengan usaha yang selalu kuusahakan sedikit demi sedikit. Tidakkah aku berhak untuk diusahakan juga?

07:42

Air mata yang kutuliskan di hari ulang tahun kemarin sulit sekali dilupakan. Kira-kira sampai mana aku bisa bilang bahwa semuanya oke?

07:48

Kita berikan lagi kesempatan untuk hidup hari ini. Mari.

06:53

Kau tidak pernah membelaku. Begitu pun dengan semua orang lain. Aku ragu kau akan pernah membela seseorang, sama seperti aku tak yakin pernah cukup untuk berhak akan sebuah pembelaan. Aku tidak pernah cukup. 06:55 Aku harus bangun dan bekerja. Kembali aku bertanya, adakah hal baik yang cukup baik kulakukan? Untuk apa aku hidup?

23:28

Aku ingin menyerah pada segalanya. Tolong, biarkan saja begitu.

23:24

Mereka pikir semua ini lucu? Memang perasaanku cuma lelucon. Masih 23:24 Aku menangis.

23:15

Aku membenci dunia dan aku tahu dunia juga begitu kepadaku. Hidup ini menakutkan dan aku mencari-cari helm yang bisa melindungiku untuk melaluinya. Bagaimana jika aku terjatuh? Bagaimana jika kepalaku berdarah dan terkoyak dan aku tak lagi bisa bangun? Orang-orang ini meremas-remas hatiku dengan penuh semangat. Datang dan pergi sesuka inginnya. Tertawa-tawa untuk hari-hari gelap yang kulalui dan bertingkah seolah aku yang salah. Dan oh, memang aku menyalahkan diri. Setiap hari. 23:18 Seprai kamarku berwarna terang dan kupeluk boneka beruangku erat-erat. Aku mengingatmu dan merindukanmu. Aku berhenti merasa untuk orang yang pernah kupanggil sahabat, dan aku menerka-nerka kapan pula aku akan berhenti merasa untukmu. Untuk semua orang. Aku ingin menghilang.

23:11

Aku tidak pernah menjadi favorit bagi diri sendiri. Meski hari-hari kuumbar dengan kalimat terima dirimu apa adanya , banyak malam kuhabiskan bertanya apakah bisa bertukar tempat dengan orang lain. 23:12 Pekerjaan masih banyak, malam masih panjang, dan masih enam hari lagi sebelum kita bisa jalan sama-sama. Aku membenci diriku pagi ini, dan menerimanya kembali waktu tertawa denganmu pada matahari terik. Selamat hari Minggu.

22:33

Aku ingin bicara banyak kepada dunia. Tapi kutahu mereka tidak akan mendengarkan. 22:34 Tak sampai tiga puluh detik menuliskan ini.

21:41

Aku menyimpan begitu banyak kemarahan kepada orang yang terlalu kucintai. Mungkin karena itu aku ingin mati. Aku hanya tidak ingin berhenti mencintai mereka. Dan aku tidak yakin jika terus hidup dapat melakukannya. Mereka, membuatku menpertanyakan diri sendiri. Setiap hari. Merek membuatku membenci diri hampir setiap saat. Bagi mereka aku tidak akan pernah cukup. Tidak pernah. Mungkin karena itu aku ingin mati. 21:44 Aku baru saja bertengkar dengan ibuku. Aku membencinya sebesar aku menyayanginya.

12:31

Seluruh dunia menolakku. Masih 12:31

09:51

Seberapa besar aku harus mengambil bagian dalam dunia? Atau, apakah aku harus menjadi bagian dari semuanya? Aku ini partikel-partikel kecil. Dari ayahku, ibuku, cinta pertamaku, tiga sahabatku, dan musuh bebuyutanku. Dan kakek tua kesayanganku. Aku tidak mau mereka menjadi bagian-bagian yang kemudian pergi. Tidak ada lagi yang akan tersisa. Aku habis dan lalu habis. Dan selesai. Aku harus menjadi bagian dari sesuatu sebesar apa di dunia ini? Haruskah aku menjadi bagian dari seluruh kehidupan yang orang bilang adalah berkat untukku? Seberapa banyak aku harus menjelaskan? Lagi dan lagi dan lagi. Mereka mempertanyakan dan menuduh. Pergi dan datang semau-maunya. Aku tidak mau semua partikel dalam diriku dipasang cabut pasang cabut, memangnya aku ini rongsokan? Haruskah aku menjadi bagian dari seluruh kehidupan? Mengapa mesti kalian yang memutuskan dan bukan diriku saja? 09:56 Sudah beberapa hari aku menuliskan ini, dan telah beberapa malam aku tidak tidur tanpa memimpikan tengg...

23:23

Cuma pengecut. Begitu aku. Aku tak bisa berhenti memikirkan kematian. Tak peduli seberapa banyak tawa kuberi atau terima. Aku berhenti mencintai kehidupan dan kematian sepertinya bisa menjadi teman yang baik. Ingga menjauhiku. Dia diam dan hilang. Tidak ada lagi pembicaraan dan semua orang menyuruhku untuk hidup. Sekaligus memintaku untuk mati. Ada yang memanggil-manggilku. Dan kurasa itu diriku sendiri. Kematian, kematian, kematian, kematian. Kalau saja mati itu mudah. Kalau saja kematian tidak seharga keberanian besar, sudah ketebus sejak kemarin dan kujemput dia dari dealer takdir. Kematian, kematian, kematian. Aku tidak yakin,   Apakah aku masih ingin hidup? Aku membenci kehidupan. 23:27

12:02

Di tengah jam makan siang kantor, aku menanyakan ini. Memangnya keinginan untuk mati itu selalu membutuhkan alasan? Banyak orang yang mati saat mereka memiliki banyak alasan untuk hidup. Dan mereka tetap mati. Karena, kata mereka, semesta lebih berkuasa. Apakah tidak jangan-jangan kepalaku yang sedang juga dipermainkan oleh semesta? Karena kata mereka pula alam suka dengan istilah menang dan kalah. Bahwa seleksi tidak hanya berlaku pada para binatang. Aku pun mungkin hanya binatang. Jam makan siang sudah berakhir. Tetapi belum semua kembali. Bagi mereka, peraturan kantor hanya satu lagi seleksi alam yang sudah berhasil dimenangkan. 12:08

07:47

Tapi, kalau jawabannya adalah iya, aku sampai di pertanyaan mengapa.  Matahari pagi ini memberiku rutinitas yang sama. Transportasi online menjemput dan orang-orang masih hidup. Aspal jalanan masih jelek dan mobil-mobil masih melaluinya. Pekerjaan menunggu, bersama partner sebelah yang setiap hari membicarakan kematian. Tapi dia bilang dia tak ingin mati. Satu-satunya orang yang kusayangi hari ini berangkat ke pulau seberang. Entah dia akan pulang atau mungkin menetap. Tapi aku tahu rumah tidak dia temukan pada diriku. Meski dia bilang begitu. Apa aku masih ingin mati? Atau aku memang selalu ingin mati? 07:51

02:13

Apakah aku ingin mati?