Posts

Showing posts from May, 2018

22:33

Aku ingin bicara banyak kepada dunia. Tapi kutahu mereka tidak akan mendengarkan. 22:34 Tak sampai tiga puluh detik menuliskan ini.

21:41

Aku menyimpan begitu banyak kemarahan kepada orang yang terlalu kucintai. Mungkin karena itu aku ingin mati. Aku hanya tidak ingin berhenti mencintai mereka. Dan aku tidak yakin jika terus hidup dapat melakukannya. Mereka, membuatku menpertanyakan diri sendiri. Setiap hari. Merek membuatku membenci diri hampir setiap saat. Bagi mereka aku tidak akan pernah cukup. Tidak pernah. Mungkin karena itu aku ingin mati. 21:44 Aku baru saja bertengkar dengan ibuku. Aku membencinya sebesar aku menyayanginya.

12:31

Seluruh dunia menolakku. Masih 12:31

09:51

Seberapa besar aku harus mengambil bagian dalam dunia? Atau, apakah aku harus menjadi bagian dari semuanya? Aku ini partikel-partikel kecil. Dari ayahku, ibuku, cinta pertamaku, tiga sahabatku, dan musuh bebuyutanku. Dan kakek tua kesayanganku. Aku tidak mau mereka menjadi bagian-bagian yang kemudian pergi. Tidak ada lagi yang akan tersisa. Aku habis dan lalu habis. Dan selesai. Aku harus menjadi bagian dari sesuatu sebesar apa di dunia ini? Haruskah aku menjadi bagian dari seluruh kehidupan yang orang bilang adalah berkat untukku? Seberapa banyak aku harus menjelaskan? Lagi dan lagi dan lagi. Mereka mempertanyakan dan menuduh. Pergi dan datang semau-maunya. Aku tidak mau semua partikel dalam diriku dipasang cabut pasang cabut, memangnya aku ini rongsokan? Haruskah aku menjadi bagian dari seluruh kehidupan? Mengapa mesti kalian yang memutuskan dan bukan diriku saja? 09:56 Sudah beberapa hari aku menuliskan ini, dan telah beberapa malam aku tidak tidur tanpa memimpikan tengg...

23:23

Cuma pengecut. Begitu aku. Aku tak bisa berhenti memikirkan kematian. Tak peduli seberapa banyak tawa kuberi atau terima. Aku berhenti mencintai kehidupan dan kematian sepertinya bisa menjadi teman yang baik. Ingga menjauhiku. Dia diam dan hilang. Tidak ada lagi pembicaraan dan semua orang menyuruhku untuk hidup. Sekaligus memintaku untuk mati. Ada yang memanggil-manggilku. Dan kurasa itu diriku sendiri. Kematian, kematian, kematian, kematian. Kalau saja mati itu mudah. Kalau saja kematian tidak seharga keberanian besar, sudah ketebus sejak kemarin dan kujemput dia dari dealer takdir. Kematian, kematian, kematian. Aku tidak yakin,   Apakah aku masih ingin hidup? Aku membenci kehidupan. 23:27

12:02

Di tengah jam makan siang kantor, aku menanyakan ini. Memangnya keinginan untuk mati itu selalu membutuhkan alasan? Banyak orang yang mati saat mereka memiliki banyak alasan untuk hidup. Dan mereka tetap mati. Karena, kata mereka, semesta lebih berkuasa. Apakah tidak jangan-jangan kepalaku yang sedang juga dipermainkan oleh semesta? Karena kata mereka pula alam suka dengan istilah menang dan kalah. Bahwa seleksi tidak hanya berlaku pada para binatang. Aku pun mungkin hanya binatang. Jam makan siang sudah berakhir. Tetapi belum semua kembali. Bagi mereka, peraturan kantor hanya satu lagi seleksi alam yang sudah berhasil dimenangkan. 12:08

07:47

Tapi, kalau jawabannya adalah iya, aku sampai di pertanyaan mengapa.  Matahari pagi ini memberiku rutinitas yang sama. Transportasi online menjemput dan orang-orang masih hidup. Aspal jalanan masih jelek dan mobil-mobil masih melaluinya. Pekerjaan menunggu, bersama partner sebelah yang setiap hari membicarakan kematian. Tapi dia bilang dia tak ingin mati. Satu-satunya orang yang kusayangi hari ini berangkat ke pulau seberang. Entah dia akan pulang atau mungkin menetap. Tapi aku tahu rumah tidak dia temukan pada diriku. Meski dia bilang begitu. Apa aku masih ingin mati? Atau aku memang selalu ingin mati? 07:51

02:13

Apakah aku ingin mati?